Saya tidak ingat kapan tepatnya saya benar-benar suka membaca. Ingatan terjauh saya soal membaca adalah sebuah malam di rumah Nyai (baca: nenek) dimana saat itu saya baru menginjak bangku 3 SD dan baru mulai perlahan mengeja kata. Buku pertama saya saat itu adalah Kisah 25 Rasul dengan sampul hitam dan judul berwarna kuning. Setelah merangkai ingatan dengan menelusuri laman gambar di google, kira-kira tampilannya begini.
Karena buku tersebut, saya mungkin dapat dikatakan sebagai salah satu anak dengan pengetahuan sejarah nabi terlengkap di usia saat itu. Hal tersebut pula yang membuat saya tampak begitu cerdas hingga membuat sang guru ngaji senior menatap saya dengan mata berbinar. Hari itu adalah hari pertama saya mengaji dan kebetulan
materi kedua setelah mengaji adalah pelajaran kisah nabi. Saat itu sang guru hendak bercerita tentang Adam, ia kemudian memulainya dengan bertanya adakah yang mengetahui siapa adam. Seisi kelas hening, saya heran pada teman-teman baru saya yang mana usianya rata-rata 3 sampai 4 tahun di atas saya, namun tak ada satu pun yang menjawab. Saya kemudian memberanikan untuk menangkat tangan. Agakya sang guru penasaran, hingga jadinya dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan akan pengetahuan saya tentang Adam, yang berhasil saya jawab dengan benar semua. Ia kemudian berkata pada murid lain: "Ayurin ini luar biasa. Kalian harus belajar padanya." Hidung saya mengembang, tentu. Pipi saya merah bagai pantat anak tikus. Itulah pertama kalinya saya dianggap berharga karena hal yang saya tahu. Dan mulai hari itu saya percaya, membaca bukanlah perkara 'asal tahu' yang akan sia-sia, setidaknya ia akan membuatmu bahagia.
Sebelum diskusi tersebut, hampir di seluruh waktu awal pengajian saya habiskan dalam diam dan pengamatan. Sebuah privilege yang saya dapat karena hari itu adalah hari pertama saya.
Saya diam sebenarnya karena dua hal:
1. Saya sangat suka mengamati orang
2. Saya takut belajar membaca simbol/huruf baru (Arab)
Ya, kemampuan visual linguistik saya memang buruk. Ketika anak-anak seusia saya sudah lancar membaca bahasa Indonesia di awal kelas 2, saya justru baru lancar di akhir kelas 3. Bukan karena saya tak berusaha maksimal, melainkan huruf-huruf tersebut kerap hadir bagaikan 'gambar' di mata saya. Ah apakah engkau paham? Ketika saya melihat sebuah kata/rangkaian huruf, saya sering melihat itu bukan sebagai sesuatu yang 'terbaca', melainkan gambar belaka. Selain itu, ketika menulis tangan, tangan saya kerap tremor dan melihat seolah tulisan yang saya buat tersebut bergerak. Saya juga benci melihat urutan angka, bahkan untuk sekedar mengingat 4 digit angka. Saya kerap bingung melihat huruf-huruf yang serupa semacam 'd', 'b', dan 'a'. Saya sering berbicara dengan susunan kata yang kacau. Dan juga hingga saat ini, setiap menyimak seseorang menyampaikan hal yang tidak saya mengerti atau tidak menarik, orang tersebut perlahan tampak bagai objek yang mengecil dan jauh dalam pandangan saya. Haha sungguh aneh bukan?
Dari pembacaan saya di usia agak menua sekarang, saya menemukan ada penyakit yang gejalanya serupa dengan yang saya alami, yaitu disleksia. Tapi saya tidak tahu pasti apakah saya memang memilikinya dalam tingkat rendah atau tidak. Tidak begitu memikirkan juga mungkin tepatnya.
Saya ingat bagaimana kelambatan saya membaca membuat orang-orang tampak malas dan tak nyaman dengan saya. Hal yang paling saya ingat adalah pada suatu ketika, ada guru baru Bahasa Indonesia yang meminta saya membaca tulisan di depan kelas. Awalnya beliau menyuruh saya membaca satu paragraf, tapi saat baru selesai satu baris pendek yang telah memakan waktu 3 menit, beliau langsung menyuruh saya berhenti dengan muka masam dan memanggil teman lain untuk membaca dua paragraf sekaligus sampai selesai.
Saya yang saat itu baru berusia 8 tahun merasa begitu sedih. Meski saat itu saya berada di peringkat 10 besar dan sering menjawab pertanyaan di kelas karena pengetahuan sehari-hari yang saya dapatkan di rumah, saya tetap begitu payah dalam membaca tulisan. Saya mulai membenci diri sendiri karena ketidakmampuan tersebut. Saya menangis sendiri di kamar karena merasa bodoh. Esok harinya menjelang tidur, saya memberanikan diri untuk melatih bereja dengan cepat. Hampir setiap malam saya mengeja buku Kisah 25 Rasul (karena itu satu-satunya yang saya punya), hingga ejaan saya perlahan lebih cepat dan pada akhirnya dapat membaca di dalam hati dengan lancar. Ah, betapa sulit rasanya waktu itu! Tak jarang saya kesal dan melempar buku kisah nabi tersebut. Ohya, tidak ada yang mengetahui hal itu hingga hari ini saya menuliskannya disini. Haha
Adapula hal menarik lainnya dalam proses tersebut. Pernah suatu malam, saya bermimpi berada di Masjidil Haram, Mekkah. Saat itu saya berada di suatu tempat yang tinggi dimana saya bisa melihat begitu banyak orang berpakaian putih berjalan bersama ke suatu arah. Lalu mata saya tertuju pada seorang sosok yang yang mencolok sendiri meski pakaiannya tak ubahnya seperti yang lain. Saya hanya bisa mengingat bahwa pria itu memiliki punggung yang tegap dan tinggi yang ideal diantara orang-orang di sekitarnya.
"Itu Muhammad", bisik seseorang pada telinga kanan saya.
"Yang itu?" tanya saya sembari memandang fokus pada seorang sosok yang mencolok.
"Iya! Itu Muhammad!", jawabnya dengan intonasi yang gembira.
Saya mengamati sosok tersebut dengan seksama, dan dengan sedikit takjub (entah karena apa) saya berkata, "Oooh. Itu Muhammad."
Saya kemudian terbangun. Lalu dengan bingung memandangi langit, buku, dan Nyai yang tidur di samping saya. Dan kemudian tidur kembali.
Hingga saat ini saya tidak tahu apakah itu benar Muhammad atau tidak. Orang-orang bilang hanyalah manusia dengan agama yang tinggilah atau minimal hafal Qur'an yang bisa bermimpi melihatnya. Pikir saya mungkin mimpi tersebut adalah buah dari kebiasaan saya membaca kisah nabi demi lancar membaca. Sebuah hari-hari yang religius bukan? Demi tujuan yang sangat duniawi. Haha

No comments:
Post a Comment