Friday, 2 May 2014

Mempertanyakan Kepler

"Bahwa energi besifat konstan, tidak bertambah dan tidak berkurang."

Siang ini saya mengikuti sebuah kelas dengan matakuliah Geodesi Satelit. Sebuah kuliah yang aneh akibat jadwal yang juga aneh (menurut saya), yaitu: satu-satunya matakuliah di hari Jum'at, dimulai pukul 01.00 siang dan hanya 50 menit lalu pulang!

Dikarenakan situasi dan kondisi yang demikian, wajar saja kelas ini lebih sering mirip sebagai kelas tidur siang. Dan bahan ajar hari ini adalah Hukum Kepler.
Mendengarkan hukum yang terus didengungkan sejak SMP tentu sangat mendukung 'kedamaian' para mahasiswa di kelas, walhasil banyak yang mulai menundukkan kepala dan lalu memejamkan mata dengan khidmat: ya, tidur!
termasuk saya. hahaha

Sang dosen muda pun menyadari ketidak-kondusif-an kelas hingga kemudian ia berdiri mendekati para mahasiswa.
Dan tiba-tiba bertanya:

"Ada yang ingin saya tanyakan, apakah kalian percaya kiamat?"

sontak para mahasiswa yang 'damai' mulai terbangun dan heran dengan pertanyaan sang dosen.

"ya, kalian percaya kiamat?"

"tentu pak" , jawab seorang mahasiswa di ikuti anggukan mahasiswa yang lain.

"lalu apa bayangan kalian tentang kiamat?"


"yaa, semacam kehancuran, pak"


"ya, semacam kehancuran. Gunung-gunung yang meletus lalu berterbangan bagai abu hingga langit yang hancur. Dan untuk menjadikan semua itu terjadi, bukankah dibutuhkan energi yang luar dari biasa? Hukum Kepler menyatakan bahwa energi itu bersifat konstan, tidak bertambah dan tidak berkurang. Jika berdasarkan hukum tersebut, bukankah kiamat kecil kemungkinan nya terjadi?"

Seluruh kelas hening

"ah yasudahlah. Wallahu'alam."

Dan beberapa menit kemudian kelas pun berakhir.
--

Sepanjang perjalanan pulang saya terus memikirkan pertanyaan itu. Teori Kepler sudah pasti telah teruji kebenarannya, tapi bagaimana dengan kiamat? 

Pikiran saya pun melayang pada hari pertama mata kuliah GeoSat, yang menyatakan bahwa semesta terbentuk oleh peristiwa Bigbang, dimana ketika seluruh materi dan energi semesta menyatu dalam kerapatan dan suhu yang sangat tinggi, serta tekanan yang tak terhingga (atau biasa disebut dengan singularitas).
Dan bukankah singularitas merupakan kondisi yang berbeda dengan teori konservatif energi-nya Kepler?
Sehingga sangat mungkin kondisi 'tidak biasa' sejenis singularitas terjadi kembali. Yang kemudian menjadi akhir dari semesta kini, dan bisa jadi juga awal dari semesta yang baru.

Ah ya, An-Naziat ayat 14 : "Maka seketika itu, mereka hidup kembali di bumi yang baru."

Duh, sangat religius~
FYI:
"Geodesi Satelit adalah bidang ilmu Geodesi yang menggunakan bantuan satelit (alam ataupun buatan manusia) untuk menyelesaikan tugas dan permasalahan geodesi, yang secara mendasar terkait dengan penentuan posisi, penentuan medan gaya berat, serta penentuan variasi temporal dari posisi dan medan gaya berat." (International Association of Geodesy)


No comments:

Post a Comment