"Isinya gimana dek?"
"Ya kayak format makalah biasa lah. Kan abang bisa cari materinya di internet. Ohya, dosennya juga nyuruh ada pembahasan dari 3 buku. Tolong abang cariin ya."
"Bukunya cari dimana?"
"Kan ada internet bang"
---
Malam ini, dikarenakan suatu hal yang penting dan mendadak, memaksakan saya untuk pergi ke sebuah warnet sekaligus tempat percetakan untuk mencetak sebuah poster sederhana.
Sayangnya dikarenakan komputer yang digunakan berjenis pentium yang entah ke-berapa, saya harus bersabar menunggu bahkan lebih dari satu jam.
Tepat pukul 20.30, seorang gadis belia datang bersama ibu dan adiknya
ke warnet tersebut. Tanpa menghiraukan saya yang sedang antri menunggu cetakan, gadis itu, ya sebut saja dia 'bunga', langsung merengsek ke samping operator warnet, persis bagai orang yang akan melakukan sabotase.
"Bang, buatin makalah ya dikumpulin senin pagi nih, judulnya Pancasilla dalam Sejarah Pembangunan Indonesia."
"Isinya gimana dek?"
"Ya kayak format makalah biasa lah. Kan abang bisa cari materinya di internet. Ohya, dosennya juga nyuruh ada pembahasan dari 3 buku. Tolong abang cariin ya."
"Bukunya cari dimana?"
"Kan ada internet bang"
"Jadi isinya gimana dek?"
"Yaelah bang kan udah dibilang formatnya kayak format makalah biasa""Maksud abang isi pembahasannya cuma pandangan dari 3 buku tadi?"
"oh itu. yaa emm, ya gitulah mungkin ya bang. Ya abang tambahin aja kesimpulannya. Aku pusing mau buatnya gimana. Ohya, Bagus-bagus ya bang, dosennya cerewet"
Dahi saya langsung berkerut mendengar percakapan yang ada tepat didepan saya.
Awalnya saya ingin berbaik sangka, "ah mungkin saja gadis ini tidak punya akses internet dirumah."
tapi tiba-tiba terdengar suara pesan masuk yang saya tahu persis bahwa itu berasal dari sebuah media sosial bernama Line.
Si Bunga pun mengeluarkan handphonenya, dan betapa tercenggangnya diri saya ketika melihat bahwa handphone miliknya merupakan sebuah handphone android keluaran terbaru, yang di angkatan kuliah saya saja hanya satu anak yang mampu membelinya.
"Ah, mungkin dia memang sedang sibuk. baru pertama kali juga mungkin", sekali lagi saya berusaha untuk berbaik sangka.
"Ohya bang, nim sama format covernya sama yang kayak kemarin-kemarin ya. masih ada kan di komputer abang?"
"oh, masih dek."
pandangan saya pun mengarah pada ibu si gadis, disaat saya baru ingin menebak apa yang ada dipikiran ibu tersebut, tiba-tiba ia menyeletuk:
"ingat jangan lupa bang, kumpulnya senin pagi. kasian anak saya , namanya juga masih semester satu, belum tau apa-apa tentang pancasilla."
Dan kali ini saya lebih-lebih tercenggang.
Oh Tuhan, bagaimana mungkin anak yang sudah lulus sekolah menengah atas tidak tahu apa-apa tentang pancasilla? bagaimana mungkin anak yang setiap harinya berkutat dengan internet tidak bisa mengakses sumber pustaka online?
Bahkan untuk makalah yang hanya meminta rangkuman 3 referensi saja ia tidak sanggup?
dan bagaimana mungkin seorang ibu dapat dengan polosnya membiarkan atau lebih tepatnya membantu anaknya berlaku demikian?
"Berapa bang totalnya kalau di tambah dengan yang kemarin?"
"Makalah ini 30 ribu, yang kemarin 40 ribu. Jadi 70 ribu"
"Ma, minta duit buat bayar tugas."
"Nih" sang ibu pun menberikan uang seratus ribu di depan mata saya.
Hingga kemudian anak-beranak itupun langsung pergi dengan perasaan lega.
--
"Cetakan saya sudah bang?"
"oh ini dek. kuliahnya jauh ya. adek anak teknik ya?"
"iya bang. abang sudah lulus atau gimana?"
"abang sih enggak pernah kuliah, cuma ya pernah belajar di sekolah tinggi biasa."
"oh begitu."
"Kamu tadi pasti heran lihat anak gadis itu kan?"
"Memangnya banyak yang begitu ya bang?"
"Banget malah. Dan banyak juga yang minta buatin skripsi. Ya begitulah dek, terserah mereka, abang sih yang penting dapat duit. Bisa buat makan. hahaha. Dunia ini dek."
"ha? iya bang. hahaha. dunia dunia."
Ya, dunia dunia.
Mendadak tertarik buka usaha
ReplyDeletehahahahaa. potensial, ki!
ReplyDelete