"Datuk, sudahlah, kitab Saravana ini sudah tak bisa lagi engkau gunakan untuk mengatur zaman yang mengenal komputer."
"Siapa engkau hingga berani berani nya menitahkanku untuk merubah kebijaksaan bagi Swarnadwipa ini!"
Kemas mundur beberapa langkah, memastikan bahwa ia nanti bisa terhindar jika nanti tiba-tiba Datuk Tetuo mengeluarkan keris dan hendak membunuhnya.
"Terserah engkau. Aku hanya berniat baik untuk berbicara padamu."
Laki-laki tua itu lalu memandang jauh ke Timur. Air mata nya pun mengalir di sela-sela wajah yang kian keriput.
"Apa kau tahu bagaimana rasanya menjadi tua dan tak dihormati? Aku telah bersemedi dan memutuskan bahwa Saravana adalah kebijaksanaan terbaik bagi Swarnadwipa yang hangat. Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa bayi-bayi yang aku banggakan kini menjadi penentang yang nyata."
"Engkau telah tua dan tidak paham apa itu pertentangan."
"Tahu apa kau tentang hidup." sinisnya.
"Datuk, tidak ada yang mementangmu, tidak ada yang menjauhimu. Engkau hanya ketakutan oleh mereka yang berani berkata lain tentang Saravana. Karena kau tidak pernah benar-benar yakin dengan kitab itu, ya bukan? Tidakkah engkau ingat saat purnama ke 1008, engkau dongengkan pada kami bahwa suatu saat Swarnadwipa akan menjadi pusat peradaban dan Saravana akan menjadi luarbiasa tirakatnya. Engkau membangkitkan mimpi kami, datuk. Tapi kini, engkau menelan ludahmu sendiri."
"Kalian tak paham maksudku!"
"Setiap peradaban punya masanya begitu juga setiap kitab punya waktunya. Tenanglah, tak ada yang meninggalkanmu. Tapi engkau sendirilah yang meninggalkan mereka. Tak sadarkah bahwa engkau kian menua dan ketakutan?"
Showing posts with label Little notes. Show all posts
Showing posts with label Little notes. Show all posts
Friday, 19 December 2014
Wednesday, 8 January 2014
Benar dan Salah
"Kak, kenapa kita ini berbeda beda? Kulitnya, agamanya, bahkan bangsanya."
"Supaya kita bisa saling mengenal."
"Ah, kak. Untuk apa saling mengenal kalau misalnya nanti malah banyak yang saling membandingkan bahkan kemudian menjelekkan?"
---
Dulu saat saya masih kecil, sebagai seorang anak yang memiliki keyakinan, saya seringkali membanding-bandingkan keyakinan saya dengan keyakinan yang lain. Dan tentu, sebagai seorang anak kecil yang polos saya hanya membanding 'kelebihan' keyakinan saya hingga 'perbandingan' pun selesai, dengan keyakinan saya menjadi pemenang tentunya.
Seiring berjalannya waktu dan seiring bertambahnya pengetahuan saya mengenai keyakinan, saya mengalami begitu banyak perang pemikiran. Hingga suatu ketika, saya melihat seorang laki-laki sedang sibuk menjelek-jelekkan keyakinan yang lain di depan teman-temannya. Dan saya pun mulai bertanya, apakah hal itu dibenarkan? Apakah kebenaran harus ditampilkan di samping 'yang-tidak-benar? Haruskah yang salah di ungkit agar yang tidak salah 'terlihat' benar?
Mungkin benar, bahwa adalah suatu keharusan bagi kita untuk dapat membedakan mana yang baik dan benar. Terutama tentang hal-hal besar yang kita yakini, keyakinan.
Seorang teman pernah berkata, "Berimanlah dengan pikiran, bukan perasaan. Karena kebenaran itu hanya bisa di temukan dengan akal. . Kita harus mencari kebenaran, dan hanya ada satu kebenaran di muka bumi ini. Dan agama bukanlah perasaan."
Namun, hari-hari saya masih dihantui pertanyaan: jika memang kebenaran harus disampaikan, haruskah yang salah juga disampaikan? atau mungkin lebih tepatnya di jelek-jelek kan?
Ya, mungkin ini adalah masalah perasaan. Mungkin juga karena saya adalah wanita, hingga seringkali berpikir secara emosional. Tapi tentu saya ingin menemukan titik terang dari sebuah kebenaran.
Hingga malam ini, tiba-tiba saya menemukan sebuah ayat, sebuah ayat yang membuat saya tertegun, Al-An'am ayat 108:
"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan."
Ah, berpikir memang terkadang terlihat menakutkan, tapi terkadang kita lupa bahwa kita masih punya Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkan makhluknya.
Semoga kita termasuk orang-orang yang berpikir.
- Yogyakarta, 8 Januari 2014 , 23:33 wib.
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu lah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam .Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya ..."
Q.S Al-Alaq 1-5.
Wednesday, 31 July 2013
Pesawat
Kalau di pikir-pikir, hidup itu seperti saat kita hendak bepergian menggunakan pesawat. saat di boarding room, semua kalangan berkumpul, dari yang paling kere sampai yang paling tajir, dari yang asalnya pedalaman di gunung sampai yang bule-bule antah berantah.
Hingga pada waktunya, mereka akan di panggil oleh annoucer untuk naik ke pesawat masing-masing. Yang memberikan harga lebih, maka mereka akan terbang menggunakan pesawat yang paling bagus, dan bagi yang memberikan harga murah, mereka pun akan terbang sesuai dengan apa yang mereka berikan.
Saya jadi teringat 2 ayat terakhir dari Surah Al-Zalzalah:
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS. 99:7)Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. 99:8)"
Semoga kita bisa mengambil pelajaran.
-Bandara Soekarno-Hatta, 21 Ramadhan 1434 H.
Subscribe to:
Posts (Atom)