Mamak
pernah bercita-cita menjadi seorang jurnalis, di saat ia sudah memiliki 3 anak
dan yang tertua telah berusia 14 tahun. Hari-hari itu adalah hari dimana ia mulai
terlalu sering patah hati. Lelaki yang dikasihinya sibuk bersama wanita lain. Mamak
depresi, stress, mungkin pula sudah setengah gila. Ia melempar marahnya pada
ketiga anak perempuannya.
Dalam mata nanar dan nyali yang setengah, Si Sulung
mencoba mendekatinya, “Mamak kenapa?”
Sayang seribu sayang, si sulung hanya mendapatkan tatapan kosong. Si sulung meringsut. Nyalinya sempurna dalam
ciut. Ia menyadari bahwa bertanya pada manusia yang patah hati adalah kebodohan
sejati.
Dipeluknya si adik erat-erat. “Tak apa”, katanya
--
Mamak pernah bercita-cita menjadi seorang
jurnalis, tapi ia tahu ia tak kan punya waktu.
--
Mamak kemudian bercita-cita menjadi seorang
aktifis. Ia pergi mencari komunitas. Ia membeli dan membaca banyak buku tentang
perempuan. Pula ia turun ke jalan politik sebagai politisi perempuan. Lalu keluar,
sembari menertawakan segalanya.
--
Lalu ia bercerita pada Si Sulung yang bodoh tentang
apa saja yang ia temukan. Jalan-jalan yang ia pilih. Si Sulung, dalam
kebodohannya, setelah membaca buku Mamak yang tercecer, bertanya: “Feminisme
itu apa, Mak?”
Mamak tertawa dan hanya menjawab dengan “Halah.
Tak usah bahas-bahas itu. Kau tahu, ada banyak hal di dunia ini yang perlu kau
anggap angin lalu saja.” Si Sulung diam, seperti biasa, mengingat tanpa
mengerti namun tetap terus memandang wajah cantik Mamak.
“Hei, kau tahu tidak. Saat seusiamu, Mamak
pernah membanting sebuah meja di depan guru”, tiba-tiba katanya sombong.
“Bagaimana mungkin bisa?”
“Biasalah guru rasis dan mental terjajah. Kau
tahu kan Mamak dulu miskin betul. Cuma otak yang paling bisa diandalkan. Mamak
jualan contekan ujian ke teman-teman Tionghoa yang kaya. Mereka yang menawari
duluan. Mamak suka bisnis. Mamak dapat uang. Eh waktu ujian, karena mereka
berisik betul, ketahuan oleh guru. Mamak diam karena tahu salah. Tapi yang
menyebalkan adalah Mamak yang dituduh menyontek, bukan teman-teman. Ya Mamak
membela diri sendiri. Si Guru tidak percaya, karena pikirnya dimana-mana yang pintar itu anak
Tionghoa dan kemiskinan adalah wajah dari kebodohan. Apalagi seorang gadis
miskin. Habislah Mamak dimarahi dan dihina. Menyebalkan bukan? Tak tahan, mamak angkat dan banting meja di depan guru itu, lalu keluar kelas.”
Mamak tertawa. Ia tampak begitu bangga. Sebangga dirinya 3 tahun silam, saat menjadi seorang istri dari tahanan politik negara. Seketika, semua gurat akibat patah hatinya pudar. Ia tampak begitu cantik. Sebuah kecantikan melayu yang paripurna. Segurai rambut lurus nan halus, kulit kuning langsat, hidung yang sempurna, dan mata yang teduh.
Ah dunia.

No comments:
Post a Comment